Satu Visi!

Masih ingat film Predator (1987) yang dibintangi Arnold? Mungkin yang seusia saya, ketika kecil dulu sempat nonton di Layar Emas RCTI di tahun90’an. Nonton film dalam dua babak : babak pertama, istirahat (baca dunia dalam berita), baru deh lanjut babak kedua :mrgreen:. Nah, kali ini muncul sequel terbarunya dengan judul Predators.

Still of Adrien Brody and Alice Braga in Predators

Sinopsis singkatnya, film ini menceritakan tentang sekumpulan manusia dari berbgai latar belakang berbeda (dokter, tentara bayaran, militer, tahanan, dll), entah bagaimana dan kenapa mereka ‘dilemparkan’ ke planet predator, hanya untuk menjadi mainan buruan dari generasi predator baru! Plotnya kurang lebih sama dengan fil Predator yang diperankan Arnold Schwarzenegger. Kalau mau tahu kelanjutan ceritanya nonton  saja sendiri :mrgreen:

Yang ingin saya bahas, dalam film ini menunjukkan, bukan banyaknya persamaan atau sedikitnya perbedaan yang bisa menentukan pantas atau tidaknya sesorang menjadi partner kita! Bukan banyaknya kesamaan yang menentukan kualitas sebuah kerja tim, bukan pula semakin sedikit kesamaan maka semakin mudah beberapa kepala untuk disatukan!

Buktinya, sesama manusia yang terdampar di planet Predators tersebut saling bunuh membunuh, hanya karena ada sebagian orang yang memiliki visi yang berbeda, yaitu menyelamatkan diri sendiri!

Buktinya ada pula manusia yang bekerjasama dengan Predators! Lah, bagaimana bisa? Kan beda bahasa, beda organ tubuh, makhluk yang berbeda! Kenapa bekerjasama? Jawabannya sederhana, karena dua makhluk yang berbeda segala-galanya ini mempunyai musuh bersama yang sama! Visi yang sama! Membunuh musuh yang sama!

Jadi, bukanlah banyak persamaan atau sedikit perbedaan yang memuluskan kerjasama kita. Tetapi tidak peduli sebanyak apa pun perbedaan dua anak manusia, semuanya bisa dianggap tidak ada dan tidak berpengaruh, jika mereka meiliki tujuan yang sama! Sederhana.

Ketika dinomorsatukan!

Kamis siang, si saya baru sadar kalau sertifikat toefl si saya sudah expired. Mau tidak mau, si saya harus segera mengikuti test lagi, karena membutuhkan sertifikat yang masih berlaku pada Selasa! Karenanya si saya mendaftar test toefl untuk besoknya. Testnya diadakan Jumat, pukul 15.30 sampai dengan pukul 17.30, dan peserta harus berada di tkp 15 menit sebelum test dimulai. Nah, pikiran yang pertama kali melintas, bukan kapan belajar Toeflnya? Tetapi kapan shalat asharnya (waktu ashar 15.14)? Setelah test dilaksanakan, tentu terlalu terlambat untuk shalat ashar. Sementara kalau sebelum pelaksanaan test, di hari Jumat yang sama, saya sudah janji mepresentasikan aplikasi Tugas Akhir kepada dosen pembimbing pada pukul 15.30. Well, anggaplah skenario terbaiknya bimbingan dimulai tepat pukul 15.00, berlangsung 15 menit, pukul 15.15 saya meluncur ke Masjid Kampus Tercinta, shalat, lalu langsung meluncur lagi ke tempat test toefl dilaksanakan… dan semuanya berakhir dengan indah.

Itu skenario terbaik, buatan manusia, tetapi pada kenyataannya, bimbingan baru bisa dimulai pukul 15.20, sedikit terburu-buru, berhasil diakhiri pukul 15.35. Sambil lari turun dari ruangan dosen, nenteng laptop yang belum sempat dimasukkan ke tas, si saya bimbang ke masjid dulu atau langsung ke tkp test dilaksanakan. Dasar manusia bodoh dan lemah, sambil memohon ampun di dalam hati, si saya langsung berbelok menuju tempat test dilaksanakan. Sampai di tkp pukul 15.40, test sudah dimulai, soal listening sudah berjalan, si saya terlewat beberapa soal awal. Masih rada riweuh, langsung ikut ngerjain test dari bagian listening yang sedang berjalan.

Dan si saya tidak berhasil fokus sama sekali :(. Terus merasa berdosa karena menunda shalat hanya demi mengejar sebuah parameter nilai yang diciptakan manusia. Pada akhirnya, semua dikerjakan buru-buru. Setengah jam sebelum test berakhir, sekitar pukul 17.00, si saya pulang duluan, mampir ke masjid buat  ngejar shalat yang udah telat banget!

Ketika shalat si saya menyesal sangat, betapa bodohnya diri ini, sampai-sampai perlu waktu sekitar satu setengah jam, untuk meyakinkan diri bahwa shalat harus diutamakan. Betapa lemahnya, sampai-sampai lebih mengkhawatirkan parameter manusia dibandingkan parameter-Nya! Betapa mudah tertipunya, sampai mengejar yang fana dan menunda yang utama.

Dan esoknya saya sadar, bahwa walaupun hambanya begitu bodoh, begitu lemah, begitu mudah tertipu, Allah tetap mengasihaninya (red : terlalu hina untuk menggunakan istilah ‘menyayanginya’), si saya mendapatkan nilai test toefl tertinggi yang pernah dia dapatkan! Setelah bersyukur, yang kemudian pertama terlintas adalah, nilai ini di dapat bukan karena si saya memang mengerti mana jawaban yang benar, tetapi karena sepanjang test, si saya benar-benar ga bisa focus, dan cepat saja memilih jawaban tanpa piker panjang (baca : ngasal). Dan si saya menyesal, kalau shalat ashar jam 17.00, Allah udah ngasih segini, pasti kalau shalat tepat waktu nilainya lebih tinggi lagi! Hehe, dasar manusia… selalu menyesal belakangan dan tak pernah puas, padahal sungguh begitu hina.

Tidak ada yang pantas dibanggakan dari pengalaman kemarin! Sungguh hina menunda shalat! Apa artinya meraih parameter buatan manusia, tapi kemudian menomorduakan Dia? Tetapi ada hikmah dibalik semuanya. Pengalaman kemarin, mengingatkan si saya kembali, akan perasaan begitu lapangnya dada ini, begitu ringan semua permasalahan, begitu mudah hidup di dunia ini. Jika parameter darinya dinomorsatukan, benar-benar dinomorsatukan, bahkan tidak ada parameter lain yang bisa mendekatinya terlebih lagi menyalipnya!

 

Nothing really matters...

Tidak ada lagi yang ditakuti, tidak ada lagi yang membebani, tidak ada kekhawatiran terhadap penilaian manusia. Tidak ada yang membingungkan, semuanya semudah : kalau diperintahkan ringan untuk dilaksanakan, jika dilarang mudah untuk ditinggalkan! Tidak ada lagi yang menyesatkan fikir, yang menyesakkan dada, yang memberatkan yang sebenarnya ringan, dan meringankan yang sebenarnya berat. Ah.. benar-benar indah rasanya, sampai susah dideskripsikan perasaannya.

Sangking indahnya, si saya ingin kita semua merasakannya, tetapi karena keterbasan si saya menulis, jadi susah menjelaskannya. Tetapi sebenarnya gampang, letakkan saja parameter-Nya di posisi juara satu, nanti rasa itu akan datang dengan sendirinya… Perasaan ketika kita menomorsatukan Allah, maka yang lain tidak ada artinya… Nothing really matters…

Kita tutup tulisan ini dengan sabda dahsyat dari Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam:

“Bila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berseru kepada Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Jibrilpun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penghuni langit: ”Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka kalian cintailah dia.” Penghuni langitpun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah cinta penghuni bumi kepadanya.” (HR Bukhary 5580)

 

Jangan Pernah, Main Catur Sambil Nyopir!

Kita bisa belajar dari apa saja. Kita belajar dari satu hal, lalu kemudian hal lainnya. Dan ternyata ketika kita mempelajari hal lainnya, kita belajar bahwa kesimpulan dari pelajaran sebelumnya tidak sepenuhnya benar. Saya pernah belajar -dari bermain catur- bahwa kita harus tahu beberapa langkah ke depan, ketika kita melangkahkan bidak yang sekarang. Tidak cukup hanya mengingat tujuan untuk menghabisi Raja lawan. Tapi harus tahu bagaimana melakukannya, kapan melakukannya, bidak mana yang akan melakukannya, bidak mana yang berkorban, bidak mana yang menipu, bidak mana yang membuat lawan senang sesaat, apakah ingin langsung menghabisi Raja, atau perlahan-lahan menghabisi bawahannya satu persatu, menggiringnya ke sudut, dan membuat lawan mengatakan ‘aku menyerah, aku kalah’ tanpa perlu menghabisi sang Raja!

Dan ketika kita memiliki target (baca : lawan) yang tinggi (baca : kuat), terkadang hal ekstrim perlu dilakukan! Mencari tahu tipe openingnya, gaya bermainnya, catatan permainannya selama ini. Mencoba berbagai variasi. Mencara tahu kebiasaannya, gayanya kalau ragu bagaimana, kalau yakin bagaimana, dan lainnya! Ketika semuanya telah lengkap, baru mulai bertanding!

Itu kesimpulan dari pelajaran pertama.

Selanjutnya, ketika sering nyopir Ambulance selama setahun di Yayasan.  Saya belajar hal lain. Terkadang, semua yang direncanakan tidak sempurna karenanya jangan menunggu rencana yang sempurna, baru bergerak. Terkadang, cukup tahu apa tujuan akhir, sementara bagaimana caranya, pilihan apa yang akan diambil nantinya, bisa dipelajari ditengah perjalanan, ketika kita sudah mulai berjalan.

Sebelumnya, saya tidak pernah melangkah sebelum semuanya jelas. Ketika lampu lalu lintas terlihat 50m lagi di depan, dan lampu sudah kuning, saya berpikir, tidak perlu buru-buru. Kalau buru-buru, sesampainya di persimpangan, lampu juga masih merah, tetap harus menunggu. Tidak ada yang bisa di lakukan. Dari pada terburu-buru, mari berjalan pelan-pelan, sehingga ketika di persimpangan lampu sudah hijau kembali, tidak perlu menunggu!

Tapi ternyata, terkadang tidak berjalan lancar seperti ini. Ternyata setelah 25m ada kemacetan, sehingga justru kita terkena lampu merah dua kali. Atau ada angkot yang ngetem, sehingga kita harus klakson berkali-kali untuk memaksa dia jalan dan kita tidak terjebak merah dua kali. Atau berbagai kemungkinan lainnya.

Jadi dari pengalaman itu, saya belajar bahwa terkadang, tidak perlu merencanakan terlalu jelas ke depan. Tidak perlu tahu apa yang harus dilakukan nanti. Tetapi selesaikan yang sekarang secepatnya. Sehingga cepat bertemu dengan persimpangan. Kalau ternyata hijau, kita bisa langsung melanjutkan perjalanan. Kalau pun merah, mungkin kita memiliki waktu untuk menata ulang arah perjalanan, memilih ulang hendak belok ke kiri atau kanan. Kalau pun merah, mungkin kita bisa memposisikan perseneling dalam keadaan netral, menarik tuas rem tangan, lalu sedikit merenggangkan kaki ^^

BAIK lagi TEPAT

Sudah lama saya memiliki sebuah pertanyaan, dan sudah lama juga saya mendapatkan jawabannya — jawaban yang membuat saya tidak bertanya-tanya lagi. Tidak pernah ada keinginan untuk menuliskan apa yang saya pikirkan tersebut. Hingga hari ini, ternyata saya menemukan ada orang yang memiliki pertanyaan yang tidak jauh berbeda. Nah lo, jangan-jangan masih banyak mereka-mereka yang membingungkan hal yang sama! Jadi, coba saya tuliskan saja hasil pemikiran saya tadi di posting-an kali ini. Siapa tau bermanfaat :mrgreen:

Islam, di satu sisi mengajarkan untuk memberi dan menolong sesama. Rasulullah menghimbau dan menganjurkan kepada kita agar jangan sampai tidak memberikan sesuatu kepada orang yang meminta-minta meski itu hanya secuil gerabah yang terbakar. Artinya, sesedikit apapun, meski hanya seratus-dua ratus perak umpamanya, berikanlah pada pengemis atau peminta-minta yang datang kepada kita. Bukankah Rasulullah sendiri adalah pribadi yang tidak pernah menolak membantu ketika ada orang yang meminta pertolongan kepadanya? Bahkan pernah beliau harus berhutang untuk sekadar membantu mereka.

Tetapi di sisi lain,  Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Hadits lain, Rasulullah SAW tidak menghendaki –atau mungkin malah lebih tepat melarang– umatnya untuk menjadi pengemis alias peminta-minta. Beliau juga mengatakan bahwa ada dosa yang tidak bisa dihapus kecuali dengan banjirnya keringat kita karena lelah bekerja. Tentu mengemis bukan termasuk ‘bekerja’ sebagaimana yang dimaksud oleh hadits ini.

Nah, kok terkesan bertentangan? Mana yang benar? Sebenarnya keduanya benar! di SATU sisi umat islam diajarkan untuk memberi/menolong/bersedekah. Dan di sisi yang KEDUA umat islam diberikan penjelasan bahwa mengemis itu adalah hal yang hina! Ya, meski terkesan bertentangan tetapi keduanya benar!

Yang SATU merupakan pegangan hidup yang diperuntukkan bagi mereka yang mampu agar tidak lupa untuk menolong sesama. Dan yang KEDUA merupakan pegangan hidup bagi mereka yang masih susah hidupnya, agar sesusah apa pun, jangan pernah sekali-kali meminta. Ya, keduanya benar, tetapi mari kita mencari pegangan yang BENAR lagi TEPAT!

Tidak habis-habisnya orang miskin di negara kita, sebenarnya karena sebagian besar masyarakatnya berpegang pada pegangan yang BENAR, tetapi belum TEPAT! Mereka yang miskin mengambil pegangan SATU. Dan yang kaya mengambil pegangan DUA. Nah? Apa jadinya kalau bertemu? Pasti berantakan! Si miskin berkata dengan yakinnya,”Oi, katanya kalau ada orang meminta-minta, dan kita mampu memberi makan berikanlah! Ni, gw miskin nih… mana sedekah lu? Siniin donk!” Sementara si kaya dengan tidak kalah yakin berkata.”Eh lu, bukannya gw ga mau ngasih nih… Tapi katanya, meminta-minta itu hina, ga boleh, ga dianjurkan…!” Jika ini terjadi, maka sampai kiamat si miskin tetap saja mengemis. Dan sampai kiamat pula si kaya ogah memberikan sebagian rezekinya. Maka sampai kiamat pula yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin.

Sebenarnya, kalau sebagian besar penduduk Indonesia memegang pegangan yang benar, mereka yang mampu memegang pegangan SATU, mereka yang kurang mampu memegang pegangan DUA. Sehingga sekaya apa pun seseorang, dia tidak pernah tidak membantu mereka yang meminta kepadanya. Disisi lain, semiskin apa pun seseorang, dia akan terus berusaha untuk bekerja dan tidak meminta!

Yah, kesimpulannya, terkadang BENAR saja tidak cukup, tapi harus dilengkapi dengan TEPAT. Kira-kira, pegangan SATU atau DUA kah yang Anda ambil untuk kondisi saat ini? Mari kita membantu siapa saja dengan apa saja yang kita bisa, dengan cara t yang tepat, dan alangkah baiknya kepada orang yang tepat pula (menjemput bola), bukan menunggu orang datang minta-minta. Tetapi kita cari siapa yang butuh di bantu. Dan seandainya ada juga mereka yang datang, kita bisa membantunya, maka marilah dibantu dengan cara yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan orang tersebut!

Ini Bukan Tentang Kaya Atau Miskin

Kita manusia, sering sekali menunda-nunda. Sadar atau tidak sadar, sedekah juga termasuk hal yang sering kita tunda! Dengan berbagai alasan, misalnya karena kebutuhan kita sendiri belum terpenuhi, belum ada penghasilan tetap, atau karena merasa belum mampu. Ada juga alasan-alasan penundaan lain yang lebih halus.

Sebenarnya, kalau kita mau memperhatikan masyarakat di sekitar kita, jelas mudah disimpulkan bahwa sedekah itu bukanlah masalah kaya atau miskin! Lihat saja berapa banyak orang kaya yang tidak peduli dengan tetangganya. Lihat saja berapa banyak mereka yang hidup enak untuk dirinya sendiri, dan lupa dengan saudaranya. Lihat saja mereka yang terlena dengan dunia sampai-sampai lupa bersedekah! Demikian pula sebaliknya. Tidak jarang kita temui mereka yang untuk kebutuhan sehari-hari saja masih susah tetapi rutin memberikan sedekah walaupun bagi kita terkesan sedikit.

Jadi kawan, sedekah ini bukanlah tentang kaya atau miskin. Tetapi sedekah ini tentang KARAKTER, yang terbentuk dari KEBIASAAN. Semakin tinggi penghasilan Anda, semakin tinggi pula kebutuhan Anda, gaya hidup Anda! Kebutuhan manusia, itu kalau tidak dituruti tidak akan ada habisnya! Sekaya apa pun Anda, bakal ada saja keinginan yang belum terpenuhi. Karenanya ingatlah, sedekah itu KARAKTER, yang terbentuk dari KEBIASAAN. Nah, sedari Anda masih miskin seperti searang maka BIASAKANLAH bersedekah, biasakanlah memberi!

Maka insyaALLAH, seiring naiknya penghasilan Anda, naik pula besar sedekah Anda, dan itu semua terasa mudah bahkan tidak berat sama sekali, karena Anda sudah terbiasa! Sekali lagi, sedekah itu karakter, kebiasaan, kenikmatan! Sedekah itu bukan akibat, yang disebabkan kita kaya, punya kelebihan dan lainnya. Tetapi rahasia sebenarnya, justru sedekah itu adalah sebab, yang bisa mengakibatkan kita kaya, memiliki banyak kelebihan, dan lainnya!

“Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” [42.27].

Dari firman ALLAH di atas, jelas tersirat bahwa rezeki itu ukurannya sudah ditentukan oleh ALLAH karena DIA tahu keadaan hambanya! Pertanyaannya, apakah keadaan kita sekarang sudah pantas untuk mendapatkan ukuran rezeki yang SUPER BESAR? Kalau merasa belum, maka bersedekahlah, tingkatkanlah kapasitas kita, buatlah diri kita pantas! Karena mungkin kita belum juga mendapatkan rezeki yang melimpah karena kita memang belum berhak untuk kaya. Mungkin kita belum siap menjadi kaya!?

Jadi.. mari kita bersedekah dengan rutin, bukan karena kita KAYA, tetapi justru agar kita menjadi KAYA 🙂