Jangan Pernah, Main Catur Sambil Nyopir!

Kita bisa belajar dari apa saja. Kita belajar dari satu hal, lalu kemudian hal lainnya. Dan ternyata ketika kita mempelajari hal lainnya, kita belajar bahwa kesimpulan dari pelajaran sebelumnya tidak sepenuhnya benar. Saya pernah belajar -dari bermain catur- bahwa kita harus tahu beberapa langkah ke depan, ketika kita melangkahkan bidak yang sekarang. Tidak cukup hanya mengingat tujuan untuk menghabisi Raja lawan. Tapi harus tahu bagaimana melakukannya, kapan melakukannya, bidak mana yang akan melakukannya, bidak mana yang berkorban, bidak mana yang menipu, bidak mana yang membuat lawan senang sesaat, apakah ingin langsung menghabisi Raja, atau perlahan-lahan menghabisi bawahannya satu persatu, menggiringnya ke sudut, dan membuat lawan mengatakan ‘aku menyerah, aku kalah’ tanpa perlu menghabisi sang Raja!

Dan ketika kita memiliki target (baca : lawan) yang tinggi (baca : kuat), terkadang hal ekstrim perlu dilakukan! Mencari tahu tipe openingnya, gaya bermainnya, catatan permainannya selama ini. Mencoba berbagai variasi. Mencara tahu kebiasaannya, gayanya kalau ragu bagaimana, kalau yakin bagaimana, dan lainnya! Ketika semuanya telah lengkap, baru mulai bertanding!

Itu kesimpulan dari pelajaran pertama.

Selanjutnya, ketika sering nyopir Ambulance selama setahun di Yayasan.  Saya belajar hal lain. Terkadang, semua yang direncanakan tidak sempurna karenanya jangan menunggu rencana yang sempurna, baru bergerak. Terkadang, cukup tahu apa tujuan akhir, sementara bagaimana caranya, pilihan apa yang akan diambil nantinya, bisa dipelajari ditengah perjalanan, ketika kita sudah mulai berjalan.

Sebelumnya, saya tidak pernah melangkah sebelum semuanya jelas. Ketika lampu lalu lintas terlihat 50m lagi di depan, dan lampu sudah kuning, saya berpikir, tidak perlu buru-buru. Kalau buru-buru, sesampainya di persimpangan, lampu juga masih merah, tetap harus menunggu. Tidak ada yang bisa di lakukan. Dari pada terburu-buru, mari berjalan pelan-pelan, sehingga ketika di persimpangan lampu sudah hijau kembali, tidak perlu menunggu!

Tapi ternyata, terkadang tidak berjalan lancar seperti ini. Ternyata setelah 25m ada kemacetan, sehingga justru kita terkena lampu merah dua kali. Atau ada angkot yang ngetem, sehingga kita harus klakson berkali-kali untuk memaksa dia jalan dan kita tidak terjebak merah dua kali. Atau berbagai kemungkinan lainnya.

Jadi dari pengalaman itu, saya belajar bahwa terkadang, tidak perlu merencanakan terlalu jelas ke depan. Tidak perlu tahu apa yang harus dilakukan nanti. Tetapi selesaikan yang sekarang secepatnya. Sehingga cepat bertemu dengan persimpangan. Kalau ternyata hijau, kita bisa langsung melanjutkan perjalanan. Kalau pun merah, mungkin kita memiliki waktu untuk menata ulang arah perjalanan, memilih ulang hendak belok ke kiri atau kanan. Kalau pun merah, mungkin kita bisa memposisikan perseneling dalam keadaan netral, menarik tuas rem tangan, lalu sedikit merenggangkan kaki ^^

Iklan

Posted on 31 Desember, 2010, in inspirasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: