Profesi dan Cita-cita

Karena sesuatu dan lain hal, si saya akhir-akhir ini sering memberikan dua pertanyaan kepada beberapa teman. Pertama, “eh, ntar profesi lu apaan?”. Dan kalau pertanyaan pertama itu dijawab dengan yakin dan disertai beberapa alasan lain, biasanya si saya lanjut kepertanyaan kedua, “nah, kalau cita-cita lu apaan?”. Sebagian besar, menjawab pertanyaan pertama dengan lancar, dan sedikit bingung menjawab pertanyaan kedua! Karena bagi mereka, apa bedanya profesi dengan cita-cita?
Nah, bagi si saya yang nilai UN bahasa Indonesianya pas-pasan, mengartikan profesi dan cita-cita sebagai dua hal yang berbeda. Profesi diartikan si saya sebagai sesuatu pekerjaan yang kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memastikan keberlangsungan hidup. Sesederhana itu definisi profesi bagi saya, tidak kurang tidak lebih. Apa yang dilakukan si saya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Ternyata dia melakukan beberapa usaha dan perdagangan, jadi sebagai wirausaha dan pedagangnlah profesinya, tidak kurang tidak lebih! Dan menjadi seorang wirausahawan, bukanlah cita-citanya! Karena baginya cita-cita adalah sesuatu pekerjaan yang kita lakukan dengan tujuan mengabdikan diri terhadap umat manusia dan dilakukan tanpa pamrih! Dan dalam kasus si saya, salah satu cita-citanya adalah menjadi Kepala Sekolah.
Nah, sekarang bagi kita yang sudah merasakan dunia pasca kampus (bukan berarti harus lulus dulu lho.. :p), pasti kita semua sudah memiliki profesi baru, yang sedang kita jalani. Sekarang, coba Anda renungi, apakah memang profesi yang sedang Anda jalankan itu adalah cita-cita Anda dahulu? Ingat kembali ketika dulu kita kecil, ketika kita masih percaya bahwa semua itu bisa dilakukan dan tidak ada yang tidak mungkin! Ketika kita melihat film kartun yang tokohnya bisa terbang, maka kita merasa yakin suatu saat nanti kita pasti bisa terbang! Semuanya bisa kita lakukan kalau besar nanti. Tetapi sayangnya, semakin kita dewasa banyak faktor-faktor eksternal yang kemudian membuat kita menciptakan batasan bagi diri kita sendiri, sehingga kita menyimpulkan kita tidak bisa begini, kita tidak bisa begitu, ini tidak boleh, itu tidak boleh, tidak mungkin hidup kalau menjadi begini, tidak mungkin hidup kalau menjadi begitu, dan lain sebagainya. Sehingga akhirnya kita pun membuat penyesuaian terhadap cita-cita kita. Bahkan tidak jarang, pada akhirnya, profesi yang tidak sengaja kita dapatkan kita asumsikan sebagai cita-cita yang dulu pernah kita impikan.

Nah, bagi kita sekarang yang sudah memiliki profesi, mungkin sudah saatnya kita menjadi bocah lagi dan mengejar kembali cita-cita kita! Saatnya kita kembali menjadi manusia yang meyakini tidak ada yang mustahil! Sayang banget lho, kalau ternyata seseorang yang harusnya bisa dahsyat kalau menjadi guru cuma terperangkap dibelakang meja kantor, seseorang yang ternyata bisa menjadi motivator hanya menjadi penghitung pajak di setiap akhir bulan, seseorang yang dianugrahi bakat menjadi pembalap, hanya nongkrongin server setiap harinya…
Hidup ini singkat, jadi jangan pernah mencoba menjalani kehidupan orang lain. Tidak ada kata terlambat dalam hidup yang singkat ini, tidak ada kata terlalu tua untuk sebuah perubahan dan cita-cita! Michelangelo masih menghasilkan karya2 besar usia 99 thaun, John Glenn mengangkasa kembali di usia 75 tahun, Gladstone mjd PM INggris di usia 83 tahun, Komodr Vanderbilt membangun hampir semua jalan keretanya di usia 70 tahun, karya besar Titian ditulis diusia 95 tahun, bahkan yg Last Supper di usia 99 tahun! Dan kita semua, saya yakin masih begitu muda untuk mengejar kembali cita-cita kita dan menghasilkan karya-karya besar. So, selamat berkarya! ^^

Iklan

Posted on 28 April, 2010, in motivasi and tagged . Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. Masuk surga!!! (Amin…)

    Nah, pada waktu kecil saya pernah punya cita-cita ingin jadi polwan, bagaimana tuh Pak? :mrgreen:

    Shiddieq bilang : “Karena baginya cita-cita adalah sesuatu pekerjaan yang kita lakukan dengan tujuan mengabdikan diri terhadap umat manusia dan dilakukan tanpa pamrih!”.
    Mengabdi pada umat manusia dan ikhlas bisa dilakukan, baik itu di “profesi” maupun “cita2”.

    Oh ya, satu lagi cita2 saya, suatu saat jadi pelukis (peminatan : kaligrafi).^^ Suatu saat nanti, insyaAllah.

    • yup! tiap orang bisa punya definisi beda2 kok. dan bagi sebagian orang, berdasarkan definisinya, memungkinkan untuk membuat profesi = cita2.
      nah, kebetulan bagi saya tidak, karena saya mengartikan yg satu untuk kebutuhan hidup, yg satunya lagi tanpa pamrih ^^

      apapun itu, jadi orang bermanfaat dengan cara yang tepat dah dahsyat kok! ^^

  2. berarti orang yang bahagia adalah orang yang memiliki profesi dan cita-cita yang sama??

    • ga donk kak,
      kan berbeda tuh definisnya, ga bisa disatukan sepertinya…
      yg bahagia, yg memiliki kemerdekaan utk terus mengejar cita2nya, tanpa perlu terperangkap dengan profesinya ^^

  3. ooh,, tanya2 waktu itu krn mau buat tulisan ini ya

    klo yg saya pernah baca,, kerja itu sama dengan ketrampilan utk bertahan hidup (upaya menemukan rejeki yg sdh dsiapkan Allah utk kita), entah kerja itu sama dgn latar belakang pendidikannya atau gak. asal bisa bertahan hidup dg ketrampilan itu, maka itulah kerja

    klo cita2,, itu sesuatu yg membuat kita bahagia ketika mengerjakannya,,

    cita2 = kontribusi = bermanfaat = pengamalan ilmu (gak mesti ilmu yg didapat d bangku pendidikan) yg kita dapat

    NB: tampilan baru nih blognya ^^, selamat selamat,, mg makin nambah tulisannya juga 😀

    oya bos, sy kemarin kirim email ke yahoo,, dicek yak ^^

  4. lah abang ndiri?? bagaimana nasib profesi dan cita-cita anda? 😀

    • profesi = pedagang

      cita2 = bikin PAUD, bikin TK, bikin organisasi pemuda, ngisi training dimana2, nulis buku, bikin program tv yg bermanfaat, bikin pesantren, bikin sekolah domba, jadi wartawan, jadi fotografer, hapal quran, punya anak banyak, masuk surga!

      hehehehe

      buruan ke bandung dek…

  5. Shiddieq :
    profesi = pedagang
    cita2 = bikin PAUD, bikin TK, bikin organisasi pemuda, ngisi training dimana2, nulis buku, bikin program tv yg bermanfaat, bikin pesantren, bikin sekolah domba, jadi wartawan, jadi fotografer, hapal quran, punya anak banyak, masuk surga!
    hehehehe
    buruan ke bandung dek…

    ntar dy ikutan dech yg di bikin PAUD ma Tk hohohoho trus..trus… yg jadi fotografer juga..trus….ngekorin abang masuk surga wkwkkwkwk

    ok bang????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: