Hikmah Polisi Tidur

Tadi malam, saya berkesempatan mengunjungi kembali kampus tercinta, setelah sudah hampir satu semester tidak kesana -padahal saya masih mahasiswa- ternyat abanyak perubahan yang terjadi. Dan yang paling menarik perhatian saya adalah meningkat pesatnya populasi polisi tidur di sepanjang jalan lingkar IT Telkom! Tampaknya tingkat reproduksi polisi tidur di sekitaran kampus semakin tinggi. Selain itu, kalau kita liha tlebih seksama, terlihat evolusi  terjadi terhadap bentuk polisi tidur.

Kalau pada masa-masa awal di kampus dulu polisi tidur hampir seragam bentuk dan fisiknya maka sekarang, tidak lagi! Ada polisi tidur yang imut-imut (kecil-kecil, kurus, bahkan panjangnya cuma setengah dari lebar jalan). Ada polisi tidur yang amit-amit (kurus, tapi tingginya minta ampun). Polisi tidur pembela kebenaran (yang segede GABAN) juga ada!

Yah, cukup membahas polisi tidurnya. Ada satu hal yang menarik tadi malam. Kebetulan tadi malam, dalam menempuh perjalanan ke Sukabirus saya meminajm motor teman kost-an. Sebuah motor yang lampunya hidup segan mati tak mau sehingga saya kesulitan untuk melihat ada polisi tidur atau tidak di depan saya. Nah, sebenarnya polisi tidur itu hampir sama gedenya (walaupun sedikit variatif) tetapi yang menarik, ketika saya tahu bahwa di depan ada polisi tidur, saya memiliki waktu beberapa detik untuk mengerem, memelankan laju motor, dan melalui polisi tidur dengan aman! Tetapi, ketika polisi tidur itu tidak kelihatan maka dengan santainya saya tetap membawa motor dengan kencang, sedikit kaget ketika tiba-tiba melintasi polisi tidur, terlompat dari temapt duduk, dan mungkin sedikit oleng.

Loh, dimana menariknya? Haha, bagi saya itu menarik karena cerita tentang polisi tidur ini seperti sebuah analogi ketika seorang anak manusia menghadapai sebuah tantangan. Bukan besar kecilnya polisi tidur yang membuat pengendara motor akan santai melaluinya atau justru akan oleng tetapi kesiapan pengendara itu sendiri! Demikian pula, bukan susah atau mudah tantangan yang hadir yang kemudian membuat kita akan survive atau justru patah semangat dan gagal tetapi lebih tergantung kesiapan dan kemampuan kita sendiri!

Seperti kisah garam dan air. Jika sesendok garam dituangkan ke sebuah gelas kecil, di aduk rata, dan kemudian dicicipi, pasti rasa air itu menjad asin! Tetapi jika sesendok garam ditunagkan ke danau yang luas, diaduk rata, tetap saja air danau tida menjadi asin seperti air laut! Nah, dari pada menjadikan kuantitas ggaram sebagai parameter, jauh lebih arif jika kita menjadikan kuantitas air sebagai parameter. Demikian pula, dari pada kita menjadikan masalah/tantangan /hambatan sebagai alasan kita gagal, alasan kita menyerah, mendingan kita memperluas hati-hati kita, meningkatkan kesiapan kita, mengasah potensi kita agar bisa menjadikan masalah/hambatan/tantangan yang ada sebagai sebuah hal kecil yang tidak berarti.

Semoga bermanfaat! Semangat selalu 🙂

Iklan

Posted on 24 November, 2009, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. you right..
    nice conclusion… 🙂

  2. Hikmah bagus yang diinspirasi dari polisi tidur. Mantab, diq! Alhamdulillah ente selamat.

    Tapi tetap saja, sedari awal melihat polisi tidur yang baru disekitar kampus, saya berpendapat bahwa pihak yang berwenang harus membuat polisi tidur itu menjadi terlihat. Dengan kondisi yang sekarang, amat beresiko terjadi kecelakaan. Terutama di malam hari, polisi-polisi tidur itu benar-benar “hilang” dari pandangan mata.

  3. hayooo apakah bahasa inggrisnya polisi tidur??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: