Hikmah Polisi Tidur

Tadi malam, saya berkesempatan mengunjungi kembali kampus tercinta, setelah sudah hampir satu semester tidak kesana -padahal saya masih mahasiswa- ternyat abanyak perubahan yang terjadi. Dan yang paling menarik perhatian saya adalah meningkat pesatnya populasi polisi tidur di sepanjang jalan lingkar IT Telkom! Tampaknya tingkat reproduksi polisi tidur di sekitaran kampus semakin tinggi. Selain itu, kalau kita liha tlebih seksama, terlihat evolusi  terjadi terhadap bentuk polisi tidur.

Kalau pada masa-masa awal di kampus dulu polisi tidur hampir seragam bentuk dan fisiknya maka sekarang, tidak lagi! Ada polisi tidur yang imut-imut (kecil-kecil, kurus, bahkan panjangnya cuma setengah dari lebar jalan). Ada polisi tidur yang amit-amit (kurus, tapi tingginya minta ampun). Polisi tidur pembela kebenaran (yang segede GABAN) juga ada!

Yah, cukup membahas polisi tidurnya. Ada satu hal yang menarik tadi malam. Kebetulan tadi malam, dalam menempuh perjalanan ke Sukabirus saya meminajm motor teman kost-an. Sebuah motor yang lampunya hidup segan mati tak mau sehingga saya kesulitan untuk melihat ada polisi tidur atau tidak di depan saya. Nah, sebenarnya polisi tidur itu hampir sama gedenya (walaupun sedikit variatif) tetapi yang menarik, ketika saya tahu bahwa di depan ada polisi tidur, saya memiliki waktu beberapa detik untuk mengerem, memelankan laju motor, dan melalui polisi tidur dengan aman! Tetapi, ketika polisi tidur itu tidak kelihatan maka dengan santainya saya tetap membawa motor dengan kencang, sedikit kaget ketika tiba-tiba melintasi polisi tidur, terlompat dari temapt duduk, dan mungkin sedikit oleng.

Loh, dimana menariknya? Haha, bagi saya itu menarik karena cerita tentang polisi tidur ini seperti sebuah analogi ketika seorang anak manusia menghadapai sebuah tantangan. Bukan besar kecilnya polisi tidur yang membuat pengendara motor akan santai melaluinya atau justru akan oleng tetapi kesiapan pengendara itu sendiri! Demikian pula, bukan susah atau mudah tantangan yang hadir yang kemudian membuat kita akan survive atau justru patah semangat dan gagal tetapi lebih tergantung kesiapan dan kemampuan kita sendiri!

Seperti kisah garam dan air. Jika sesendok garam dituangkan ke sebuah gelas kecil, di aduk rata, dan kemudian dicicipi, pasti rasa air itu menjad asin! Tetapi jika sesendok garam ditunagkan ke danau yang luas, diaduk rata, tetap saja air danau tida menjadi asin seperti air laut! Nah, dari pada menjadikan kuantitas ggaram sebagai parameter, jauh lebih arif jika kita menjadikan kuantitas air sebagai parameter. Demikian pula, dari pada kita menjadikan masalah/tantangan /hambatan sebagai alasan kita gagal, alasan kita menyerah, mendingan kita memperluas hati-hati kita, meningkatkan kesiapan kita, mengasah potensi kita agar bisa menjadikan masalah/hambatan/tantangan yang ada sebagai sebuah hal kecil yang tidak berarti.

Semoga bermanfaat! Semangat selalu :)

Mau Bisnis Tapi Bingung

Terlalu banyak pertanyaan yang sama yang sering saya terima. Satu diantaranya adalah, “Dieq, saya pengen banget bisnis, tapi ga tau mau bisnis apa… Enaknya gimana ya?” Gubrak dah. Memangnya yang enak di saya pasti enak di orang lain? Kan belum tentu itu relatif, sangat relatif.

Contoh pretanyaan lainnya, “Dieq, bisnis pertama kamu apa? Saya mau bisnis nih… mau banget, tapi ga tau harus mulai dari mana.” Dan ketika saya menjawab, “Dulu yang saya ingat pertama kali jualan ikan hias di SD. Tapi kalau pas di kampus, pertama kali mah jualan donat,” maka pasti sebagian besar tidak percaya! Mereka beranggapan, bisnis itu harus dimulai dari sesuatu yang besar, mungkin mereka tidak melihat bahwa Bob Sadino pun misalnya, memulai dari sesuatu yang kecil. Tidak ada sesuatu yang instant dalam segalah hal! Terlebih lagi dalam berbisnis.

Nah, di posting-an kali ini., saya akan coba membahas dua pertanyaan tadi menurut versi saya. Pertama, tidak semua orang harus jadi wirausahawan! Tidak mungkin donk, kalau tidak ada yang menjadi pegwai di dunia ini, ya kan? Jadi, carilah profesi yang membuat diri Anda enjoy. Belum tentu wirausahawan lebih bagus dari pada profesi pegawai, demikian pula sebaliknya! Jangan pernah terpengaruh dengan teori yang menyatakan dengan bisnis, kita bisa menjadi lebih kaya dari pegawai, bisa lebih santai, bisa lebih merdeka dan lainnya! Karena dalam bisnis juga butuh kerja keras! Demikian pula jangan mudah percaya dengna pernyataan profesi pegawai itu memberikan jaminan kepastian, dan sebagainya!

Kesampingkan itu semua, dan ketika anda mengambil keputusan semata-mata jadikan panggilan hidup anda sebagai pertimbangan. Panggilan hidup? Ya, saya menganggapnya sebagai panggilan hidup! Saya kenal dengan seorang dosen yang cukup puas dengan gaji dua juta rupiahnya karena memang mengajarlah panggilan hidupnya. Saya juga mengenal seorang lulusan S-2 yang memilih berbisnis bakso, dan dia bahagia dengan pilihannya. Jadi, pertama sekali, kalau anda memang merasa bahagia seandainya anda terjun ke dunia bisnis dan memutuskan untuk tidak akan melamar kerja atau akan meningalkan pekerjaan Anda sekarang, maka lakukanlah. Tapi kalau memang Anda merasa itu bukan panggilan hidup Anda, jangan pernah terbujuk dengan rayuan segala macam seminar bisnis yang menjanjikan kebebasan finansial, atau janji-janji lainnya! Jangan pernah mencoba memulai berbisnis hanya karena lagi nge-trend, ikut-ikutan teman dan alasan klise lainnya. Sederhana, pilih profesi yang membuat Anda bahagia.

Kedua, there are no shortcut to success! Benar, tidak ada jalan pintas untuk sukses di bidang apa pun! Jadi, anda boleh saja berpikiran besar dan jauh ke depan, tetapi bertindaklah dari yang kecil dahulu dan dari sekarang juga. Bob Sadino mulai bisnis dengna berjualan telur ayam kampung. Tawakkal Farm yang memiliki 1.200 domba pun hanya dimulai dari 6 ekor saja! Jadi jangan khawatir, mulai saja dari yang kecil tapi serius dan berikan yang terbaik. Untuk masalah ‘mau bisnis apa?’, itu gampang sekali! Mulai saja dari yang anda sukai, jangan pernah mencoba berbisnis sesuatu yang tidak anda sukai, tidak anda pahami! Jangan pernah berbisnis sesuatu karena lagi nge-trend! Ingat ketika bisnis laundy mulai berjamur, tiba-tiba banyak orang-orang yang ‘memaksakan’ dirinya terjun di bisnis itu. Dan akhirnya sekarang, hanya sebagian yang survive.

Saya pernah membaca dalam sebuah buku –yang saya lupa jduulnya dan pengarangnya siapa- dituiskan ‘seriuslah dan tekunilah melakukan hal yang anda sukai, dan biarkan hal itu kemudian membiayai hidup anda’. Banyak sekali contohnya mereka yang hidup dari hobi-hobi mereka. Bisa anda bayangkan, asyik sekali bukan menjadikan hobi anda sebagai mata pencaharian anda? Contohnya sudah banyak, ada mereka yang hobi mengoleksi buku kemudian hidup dari buku-bukunya, blogger yang kemudian bisa hidup dari hobi nge-blognya, dan lain sebagainya. Jadi, yang kedua juga sederhana, jika anda sudah yakin akan menadikan wirausahawan sebagai profesi anda, maka lakukanlah hal-hal yang anda senangi, kesampingkan semua hitung-hitungan tentang untung rugi, lakukan saja, tekuni dan seriusi, dan kemudian izinkanlah hal yang anda senangi itu membiayai hidup anda!

Sip. Mungkin demikian jawaban versi Shiddieq tentang dua pertanyaan tadi. Semoga bermanfaat, dan ditunggu masukannya :) .

NB : Hidup ini singkat, jadi jangan terlalu dibuat rumit :mrgreen:

sumber gambar disini.

Ada Blogger Baru Dari Aceh Nih… Huehue

Hehe, baru tahu ternyata adek saya juga punya blog! Tetapi juga belum begitu lama, hampir dua bulan umur blognya. Nah, buat teman-teman blogger semuanya. Ini dia blognya Muhammad Fathahillah Zuhri. Hm, tidak tau kenapa dia memilih blogspot. Haha, jadi inget zaman 3 tahun lalu main di blogspot.

Nah, di posting-an kali ini juga, saya nge-link dua buah copas-an dari posting-an dari blog kotakide :mrgreen: , ini dia :

My Ma (tulisan tentang ibu saya) dan My Pa (tulisan tentang ayah saya).

NB : biar pun cuma nulis dikit dan copas sana-sini, yang penting tetap rutin update blog ^^v.

My Pa – copas dari blog adek saya

Papaku tidak pernah berkata cinta pada anak-anaknya

Karena setiap pengorbanannya lebih berharga dari kata cinta dari semua bahasa

Ia tidak peduli tentang prestasi kerjanya

Karena yang terpenting baginya adalah anak-anaknya

Dulu ia selalu sibuk mengurus ayam-ayamnya dan peliharaan lainnya

Tapi anak-anak selalu lebih penting baginya

Dulu ia pura-pura marah karena kami membencinya merokok di depan kami

Padahal di dalam hati ia sumringah membesarkan anak-anak yang anti rokok

Ia hampir tidak pernah mengajariku membaca Al-Qur’an

Karena baginya kami hanya layak diajar oleh yang terbaik dibidangnya

Ia kerja hingga sore setiap harinya

Tapi ia sanggup terjaga tengah malam demi anak-anaknya yang sakit

Ia menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya

Tapi ia tidak pernah memaksakan kehendaknya

Ia tidak pernah membanggakan dirinya

Tapi ia amat senang membanggakan anak-anaknya

Ia selalu mengalah ketika bermain melawan anak-anaknya

Karena yang terpenting baginya menyenangkan hati anak-anaknya

Ia tidak pernah memikirkan akibat rokok untuk tubuhnya

Tapi ia masih berusaha berhenti merokok atas permintaan anak-anaknya

Ia hampir tidak pernah memakai hadiah penghargaan atas dedikasinya

Yang ada dipikirannya hanyalah ‘apakah anakku terlihat bagus memakainya’

Ia lelah bekerja bolak-balik Cepu-Lhokseumawe setiap bulan

Tapi ia tidak pernah mengeluh demi anak-anaknya

Uangnya hanya tersisa beberapa puluh ribu di tabungan

Karena ia menggunakannya demi anak-anaknya

Ia tidak memikirkan kesenangan dalam hidupnya

Yang penting anak-anaknya tidak hidup susah seperti dirinya

Ia sedih ketika anak-anaknya tinggal jauh darinya

Tapi ia mengizinkannya demi kebaikan anak-anaknya

Ia tak pernah menjadi sarjana

Tapi ia susah melihat anaknya berlama-lama dengan tugas akhirnya

Ia tak pernah hidup demi dirinya

Seperti ayahnya yang hidup demi dirinya dan saudara-saudaranya

My Ma – copas dari blog adek saya

foto : rarindra prakarsa

Mamaku keras kepala
Ia berkeras menjaga kami sembilan bulan di perutnya
Ia tak pernah belajar dari pengalaman
Ia berkeras melahirkanku padahal ia tahu betapa sakitnya proses persalinan
Ia sangat suka marah-marah
Tak pernah ia izinkan kami melakukan hal yang salah
Ia selalu mencari kesalahan kami
Karena ia mau kami lebih sempurna dari dirinya
Ia tidak mempercayai kami
Semua kesusahannya tidak ia ceritakan pada kami
Ia selalu berpura-pura kuat walau ia kelelahan
Hanya karena ia tak ingin anaknya khawatir
Ia keras terhadap kami
Ia tak mau kami berpangku tangan, tidak berusaha menjadi lebih baik
Ia pelupa
Ia tak pernah mengingat-ingat kebaikannya
Ia malas bekerja
Ia sering minta cuti demi anak-anaknya
Ia tidak peduli dengan dirinya sendiri
Yang penting baginya adalah anak-anaknya
Terkadang ia berbohong
Ia berkata kami yang terbaik, walau kami tahu banyak yang lebih baik dari kami
Ia selalu mengeluh akan kenakalan kami, anak-anaknya
Tapi ia tidak bisa kehilangan kami dari sisinya

Repost : Review Hafalan Salat Delisa

Dua minggu yang lalu, saya menyempatkan diri ke Jakarta untuk mengunjungi Indonesia Library ad Publisher Expo 2009 di Istora Senayan. Tidak berniat membeli, hanya melihat-lihat saja. Tetapi akhirnya delapan ratus ribu uang di kantong saya habis. Yah, bukannya saya yang tidak bisa menahan keinginan untuk membeli tetapi buku-buku yang ada sangat menggoda. Tiga diantara buku yang saya beli adalah karangan Tere Liye. Tidak ada alasan khusus, murni hanya karena saya pernah membaca salah satu buku beliau maka saya memutuskan membeli seluruh buku karangannya yang diterbitkan oleh Republika yang belum saya baca.

Hari ini, saya baru menyelesaikan salah satunya, yaitu buku yang berjudul Moga Bunda Disayang Allah. Dan saya berniat menuliskan review-nya di posting-an kali ini. Namun sedari tadi saya mencoba, belum saya temukan kata-kata yang cocok untuk menggambarkan keharuan dan keindahan buku ini. Akhirnya saya menyerah. Mungkin di postingan laninnya nanti. Tetapi, kalau Anda percaya saya, maka saya katakan bahwa buku ini termasuk ke kategori buku yang pantas dibaca dan pantas dibeli!

Yah, saya akan mencoba menulis review-nya nanti. Untuk kali ini, review dari saya tentang sebuah buku karangan Tere Liye yang menggerakkan saya untuk membaca buku karangan Tere Liye lainnya akan saya copy. Review ini saya tulis di Multiply saya, dulu sekali. Namun karena kosa kata yang saya punya tidak bisa  menggambarkan kekuatan buku ini maka reviewnya menjadi sangat singkat.

Hafalan Salat Delisa

Posted by shiddieq on Apr 29, ‘08 10:58 PM for everyone

Category: Books
Genre: Other
Author: Tere Liye
Saya sangat senang membaca, karenanya saya bingung untuk memilih buku apa yang akan saya review pertama kali. Buku yang paling menggerakkankah? Yang paling sering diulang-ulang membacanyakah? Akhirnya, saya menemukan sebuah buku. Buku yang membuat saya paling banyak menangis ketika membaca buku.

 

Sebuah buku yang ditulis dengan bahasa yang santai, mudah diimajinasikan, tetapi sangat menyentuh! Kepolosan Delisa dan keindahan pergaulan dalam keluarganya, membuat kita sedikit tertawa mengenang masa kecil dulu, namun, karena kita sudah bisa membayangkan akhir dari buku ini, maka mata kita akan menjadi basah. Dan akhirnya, ketika saya meneruskan membaca, saya mulai tidak bisa berhenti menangis dari halaman ke 67 sampai tamat.

Buku ini mengajarkan keihklasan, kesabaran, rasa cinta kepada orang tua, menyadarkan apa yang sebenarnya dimiliki seorang anak manusia, mengingatkan kita akan Allah, dan banyak hal lain.

Bagian yang paling membekas bagi saya adalah ketika Delisa menyetorkan hafalan bacaan shalatnya! Benar-benar membekas… benar-benar…

Pesta Blogger 2009 : One Spirit One Nation

peserta pesta blogger 2009
peserta pesta blogger 2009

Blogger dari berbagai penjuru Indonesia tumpah ruah di ajang kopi darat nasional! Berbagai komunitas blog tampak hadir mengikuti acara pesta blogger 2009 seperti komunitas blogger dari Kalimantan Selatan, Anginmamiri Sulawesi Selatan, Palembang, Pekanbaru dan juga komunitas-komunitas lain yang berasal dari Pulau Jawa. Pihak panitia mengatakan lebih dari 1.200 blogger hadir di pesta tahun ini.

Secara keseluruhan, rangkaian acara pesta blogger 2009 berjalan seperti yang direncanakan, walaupun ada sedikit kemoloran waktu karena memang sulit bagi panitia yang cuma beberapa orang j untuk mengatur ribuan pesert. Bagi saya pribadi, ada dua hal yang menarik di awal acara, yang pertama bagaimana piawainya Tifatul Sembiring, Menkominfo yang baru, mengambil hati para blogger. Beliau yang mengaku sebagai blogger bahkan sempat mempromosikan akun twitternya. Semoga saja, interaksi yang begitu terbuka dengan para blogger akan terus berlangsung sepanjang lima tahun kedepan dan seterusnya.

Yang kedua adalah Video Opening yang ditampilkan oleh panitia, yang memuat berbagai macam kegiatan komunitas blogger di kotanya masing, dengan ekspresinya yang lucu-lucu dan menarik. Video Opening yang mengambil tema seperti tema pesta blogger 2009, One Spirit One Nation, juga secara tersirat menunjukkan potensi yang dimiliki oleh blogger dan juga potensi negara Indonesia. Namun sedikit disayangkan karena kenarsisan panitia sedikit mendominasi video ini, hehehe. Tetapi itu tidak terlalu bermasalah, saya lebih menyayangkan lagi keputusan untuk menggunakan bahasa inggris sebagai audio, dan bahasa Indonesia sebagai subtitlenya! Harusnya kebalikannya donk :D

Nah, di luar dua hal tadi, tidak ada hal yang menarik bagi saya sampai acara break out sessions. Dibandingkan duduk manis mengikuti rangkaian acara saya dan sebagian blogger lain lebih tergoda untuk berkenalan dan berinteraksi secara langsung, setelah selama ini hanya kenal di dunia maya. Jumlah peserta yang benar-benar serius mengikuti sesi interactive discussion : One Spirit One Nation pun terlihat tidak begitu banyak. Karena memang menggoda sekali untuk berkumpul dengan blogger dari berbagai penjuru Indonesia, berkenalan, bertukar cindera mata, dan berdiskusi! Mungkin karena panitia tidak menyediakan sebuah kegiatan yang memungkinkan adanya interaksi langsung antara para blogger secara dua arah makanya sebagian blogger berinisiatif membuat acara di dalam acara :D .

Terlebih lagi ketika acara hiburan yang diisi oleh Pandji, semakin banyak blogger yang mojok dan ngobrol. Bukan karena yang menghibur Pandji sih, tetapi kalau kita mengusung tema One Spirit One Nation maka akan sangat lebih baik kalau hiburan yang dihadirkan adalah kesenian dari daerah kita sendiri, bukannya dengan nge-rap. Selain itu juga kata-kata yang dilafalkan sang rapper , cuma terdengar ujung-ujungnya saja (mungkin karena sound-nya kurang mendukung sih). Apapun penyebabnya, di pesta blogger 2009 kemarin, berinteraksi dan berkenalan langsung dengan sesama blogger jauh lebih asyik ketimbang mengikuti acara yang ada.

Tetapi saya memberikan dua jempol untuk acara break out sessions yang saya ikuti -saya tidak tahu acara break out sessions lainya-, Citizen Journalism. Tidak salah saya memilih sesi ini diantara sembilan sesi lainnya. Paparan yang diberikan oleh Mba Lily Yulianti dan Mas Pepih Nugraha benar-benar dahsyat! Mungkin nanti saya akan menulis khusus tentang sesi ini.

Sore harinya pesta blogger diakhiri dengan pengumuman door prize, games, pengumuman pemenang berbagai perlombaan, dan tari piring (mungkin ini satu-satunya rangkaian acara yang mewakili tema One Spirit One Nation).

SQ di pesta blogger 2009
SQ di pesta blogger 2009

Bagi saya, selain break out sessions tentang Citizen Journalism, acara yang menarik lainnya adalah foto bareng! Dan saya yakin, begitu juga bagi peserta lainya! Mulai dari di welcome wall yang disediakan, di booth-booth yang ada, foto bareng blogger lainnya, foto bareng tokoh Star Wars, atau pun foto iseng lainnya.

Kita sudah berpesta! Saya banyak dapat teman baru dari pesta ini. Blogger dari Singapura, Birma, Bangladesh, Amerika, Ausralia, dan dari seluruh Indonesia! Terimakasih buat panita pesta blogger 2009 yang sudah bekerja keras menyelenggarakan kopi darat nasional ini. Terimakasih juga untuk Pak Menkominfo yang udah mau datang, mas Eko Ramaditya Adikara yang bersedia menjelaskan tuntas tentang serba-serbi lightsabers :D , Mba Lily Yulianti, Mas Pepih Nugraha, dan Bang Aan Mansyur yang membuka wawasan tentang Citizen Journalism, Rombongan Baraya Blogger, Paman Sam yang bersedia jadi sponsor, dan banyak lainnya.

Ya, Kita sudah berpesta! Sekarang, mari kita nge-blog lagi :p
See u all at pesta blogger 2010, insyaallah…

sumber foto : Wirawan Winarto

Movie Review : Into The Wild

I watched a good movie two weeks ago, Into The Wild. This movie based on the true story of twenty three years old guy named Christopher McCandless. A clever boy who raised in an unhappy rich family, a family built of lies.

In rejection of materialist, conventional life, and of his parents, he destroyed all of his identities, donates nearly his entire savings to Oxfam (an NGO) then he leaves his family. He doesn’t tell his family what he is doing and where he is going. He just wanna get out from the sick society around him. He lives alone with nature. He just simply disappears into the wilderness to search for himself. But when he search for ultimate freedom, he trapped in a minibus. And ultimately,in his lonelines he concludes that happiness only real when shared.

For me, this movie is about the meaning of life, happiness, and success. I love this movie very much, somehow it is so me. He is twenty years old – I watched that movie in my twenty thrird birthday. He wrote that happiness only real when shared – and I ever wrote a poem entitled bahagia tidak pernah sendiri. Well, I dont know how, but it is so me…

But I am sure that this movie is not trying to convince anyone to go out and live like Chris did by throwing away all of our posessions and living off the land.  This movie trying to convince us to find one thing that matters to us and sacrificing everything that needed to make it real!

Chris have the guts to work on his dreams and I am so inspired by him. But there is no way I would ever go to Alaska and live alone with nature! I have my own dreams! I have thing that matters to me, and I will make that thing real, insyaallah!

You do not have to to comment this post but you have to watch this movie :)

Photos : School After An Earthquake

classroom

classroom

sumpah pemuda

sumpah pemuda

garuda pancasila

help us!

help us!

Tamu Tak Diundang di Tengah Malam

Tengah malam, seekor lebah masuk ke kamar tanpa mengucapkan salam. Namun, karena saya tuan rumah yang baik hati, saya membairkannya masuk dan berputar-putar di dalam kamar. Lebah tadi sepertinya menyukai cahaya, dia berputar-putar mengitari lampu. Sangkin senangnya dengan cahaya, walaupun dia tahu kalau dia mendekati lampu yang sedang menyala akan menyakitkan dirinya, dia tetap melakukannya berulang-ulang.

Karena saya punya prinsip, ‘jangan takut kalau tidak bersalah’ maka saya membiarkan sang lebah melakukan tawaf kepada lampu philips dan pede bahwa dia tidak akan menggangu saya. Hingga pada suatu saat, sang lebah sudah terlalu capai tawaf, dia sudah tidak kuat lagi terbang. Perlahan dia terbang merendah, turun dan turun. Dan saya masih tetap pede bahwa dia tidak akan mengganggu saya hingga tiba-tiba saya merasakan seperti digigit sesuatu! Wadaw… kaki saya disengat sang lebah…!!!

Karena terlatih menghadapi situasi kritis, tangan saya segera menyambar Baygon, dan menyemprotkannya kepada sang lebah! Baru kemudian saya membaca tulisan di kaleng Baygonnya, ‘mengendalikan nyamuk, lalat, dan kecoa’! (lebah ga ditulis.. hiks..).

Yah, tapi lama-lama si lebah mati juga! Kemudian tangan saya meraih neng Nikon untuk mengambil foto bukti wajah pelaku. Ini dia :

Setelah cukup mengambil foto, saya baru menyadari kaki saya sangat perih!!! Ternyata bekas sengatannya sudah memerah dan gembung karena ada minyak kayu putih di dekat saya, maka saya pun dengan PD mengoleskannya. Ternyata, si minyak kayu putih membuat luka semakin terasa perih dan panas. Dengan panik, saya minta bantuan om google, dan beliau menyarankan untuk mencari mencari jarum penyengat lebah pada kulit mereka, karena jarum penyengat itu yang membawa racun ke tubuh kita, tindakan ini bisa membantu racun tidak terlampau banyak masuk ke tubuh. Dan setelah saya cari, jarum tersebut memang ada, beugh.. parah dah si lebah. Kemudian cucilah bagian kulit yang tersengat dengan sabun, air, dan alkohol. Mambubuhkan es batu pada area yang tersengat juga bisa membantu meredakan bengkak. Nah, karena ga ada alkohol dan es batu, jadi saran itu saya lewati saja.

Kesimpulan di tragedi kali ini :

Yang harus di lakukan ketika tersengat lebah :

1. cari dan buang jarum penyengat di sekitar tempat sengatan

2. cuci bagian kulit yang tersengat dengan sabun, air, alkohol

3. kompres luka dengan es untuk meredakan bengkak

4. 10 menit setelah tersengat perhatikan apakah ada gejala seperti sakit kepala, kehilangan kesadaran, demam, bengkak pada bibir/wajah/lidah, dan sesak nafas. Jika ada, bisa dipastikan korban mengalami alergi terhadap racun lebah, jadi segera bawa ke dokter.

Yang jangan dilakukan ketika tersengat lebah :

  1. Mengambil kamera, mengambil foto lebah dalam berbagai posisi, melakukan editing akhir kepada foto lebah seperti cropping, pengubahan contrast, saturation atau lainnya karena ini artinya kita memberikan waktu kepada racun lebah untuk menyebar!
  2. Mengoleskan minyak kayu putih pada tempat luka sengatan lebah karena panas!!!

Sekian tips dari saya, semoga bermanfaat! Hehe